Notification

×

Iklan

Iklan

Komodivikasi Dalam Wacana Media Sosial

Sabtu, 07 April 2018 | April 07, 2018 WIB Last Updated 2018-04-07T02:01:07Z
Foto : Penulis
Indikatorntb.com - Indonesia, negara yang mempunyai beragam bahasa, beragam budaya dan beragam agama. Artinya, ini adalah aset bagi negara, dimana keaneka ragaman ini adalah bukti bahawa indonesia merupakan negara yang kaya. Kita ketahui bahwa tidak hanya bahasa, budaya atau agama yg menjadi aset negara, akan tetapi masih banyak lagi seperti suku-suku dan lain-lain. Dengan apa yang kita ketahui, dari beberapa rentetan aset negara ini, maka akan timbul harapan dari manusia pribumi untuk menjaga serta merawatnya sehingga apa yang sudah menjadi kultur dari setiap daerah di dalam negara ini tidak ngilang digulung jaman (punah karena perkembangan zaman)

Dalam era yang serba modern dengan media online yang tak lagi asing bagi masyakat indonesia, ini merupkan kesempatan emas untuk memaparkan berbagai macam keanekaragaman yang ada pada negara. Sehingga negara kususnya masyarakat akan ikut andil dalam persaingan dizaman modern ini.

Namun jika kita berpikir kritis terhadap hal ini, maka kita akan berbicara mengenai dampak negatifnya. Permasalahan sudah terbukti, dimana kebanyakan masyarakat selalu aktif sebagai masyarakat konsumtif, artinya ini adalah kemunduran bagi negara. Masyarakat belum mumpuni untuk memanfaatkan sosial media dengan baik. Untuk ikut bersaing dalam pergolakan melalui sosial media.

Dalam permasalahan lain yaitu terkait kebudayaan yang dimana lambat laun akan punah karena generasi penerus sebagai pewaris kebudayaan sudah tidak lagi memiliki kesadaran untuk mempertahankan kebudayaan di wilayah-wilayahnya, khusus kepada kearifan lokal. Hal ini kembali lagi kepada media sosial yang menjadi bahan konsumsi dengan jejelan yang serba instan dan mewah, maka kebudayaan asli indonesia ini terkesan ndeso (kuno). Namun juga tidak sedikit masyarakat yang benar-benar memanfaatkan sosial media dengan baik, sebagai ajang mencari penghasilan dengan cara yang lebih mudah.

Banyak dari tokoh masyarakat yang mana memanfaatkan sosial media sebagai pamer kebudayaan sehingga bukan hanya dari warga negara indonesia sendiri yang ingin melihat melainkan sampai manca negara, namun hal ini juga tidak sediki sudah melalui istilah komodivikasi sehingga menjadi komoditas. Artinya, kebudayaan ini sudah di modivikasi atau di kemas cantik kemudian mempunyai daya tarik pasar. Sehingga tingkat keaslian dari budaya sendiri sudah tidak ada.

Pertanyaannya, apakah kebudayaan sudah berubah menjadi barang dagangan?. Ujung-ujunge duwet (ujung-ujungnya uang), tidak heran lagi jika hal ini sudah menjadi tunggangan bagi orang-orang yang mempunyai kepentingan RUPIAH. Dengan cara memodivikasi kebudayaan ini sehingga mempunyai nilai jual.

Beralih kepada agama, yang juga merupakan salah satu aset negara. Dengan permasalahan yang sama yaitu ada istilah komodivikasi sehingga menjadi komoditas. Pertanyaan yang sama, apakah agama sudah menjadi barang dagangan?. Permasalahan ini cukup sukar dijelaskan karena beberapa tokoh agamis jelas tidak terima jika agama dijadikan barang. Namun tidak ada salahnya jika kita perlu mengkritisi persoalan ini, karena tidak sedikit yang mempergunakan agama menjadi salah satu tunggangan yang ampuh untuk tujuan kepentingan kususnya masalah mengisi kantong. Artinya bahwa dari dampak di era serba sosial media ini banyak sekali kasus-kasus yang mengatas namakan agama untuk kepentingan pribadi dengan sasaran operasi yang jelas yaitu masyarakat indonesia sebagai masyarakat konsumtif.

Dalam beberapa bulan belakangan, banyak masyarakat yang beranggapan bahwa agomo wes luntur tekan hakikate(agama sudah tidak digunakan sesuai hakikatnya), dengan adanya sosial media masyarakat menjadi paham dan berpikir kritis, bahwa agama sudah tidak lagi menjadi alat komunikasi kepada tuhan, melainkan menjadi ajang pergolakan untuk meperebutkan jabatan. Seperti aksi besar-besaran di Jakarta yang mengatas namakan ormas. Dengan adanya aksi besar-besaran banyak masyarakat yang juga beranggapan bahwa itu moumentum politik pada masa itu yang di mana setelah beberapa minggu pasca aksi, muncul bebera asumsi-asumsi di media online terkait mahar politik pada masa itu. Sehingga banyak dari masyarakat awampun percaya tanpa menyelidiki terkait validitas data-datanya. Hal ini juga akan berdampak pada saat momentum-momentum pemilu yang akan datang.

Dengan sosial media yang menjadi bumbu penghangat bagi masyarakat beberapa bulan yang lalu, menjadikan sikap msyarakat mending golput tinimbang, nyoblos yo ra ono untunge (lebih baik golput daripada memilih tidak jadi apa-apa) artinya bahwa, masyarakat kehilangan kesadarannya untuk menggunakan haknya untuk ikut serta mempertahankan NKRI, sebab beranggapan kepada apa yang dipahami di masa itu agomo wes luntur tekan hakekate (agama sudah tidak di gunakan sesuai hakikatnya).

Banyak hal yang harus dipahami dan menjadi maslah karena sosial media, mulai dari aset-aset negara seperti budaya yang lambat laun semkin menghilang akibat perubahan zaman sehingga dianggap kuno, adapun budaya yang sudah dikenal sampai kancah dunia namun prosentase keasliannya sedikit banyak sudah menurun karena ada pembaharuan akibat adanya tunggangan untuk kepentingan pribadi.

Dalam konteks agama yang juga merupkan aset negara, ini memperoleh permasalahan yang dasyat akibat era serba media sosial. Masyarakat berasumsi bahwa ada kepentingan-kepentingan yang memang menungganginya. Namun dalam konteks ini masih belum sepenuhnya benar karena belum bisa dibuktikan terkait validitas datanya.

Hal ini menjadi PR bagi pemerintah, di mana harus ada bimbingan terhadap masyarakat terkait sosial media, karena akan menjadi kerugian besar bagi negara jika masyarakat hanya mengerti tanpa jeli terkait sosial media. Pemrintah juga harus memperhatikan betul budaya-budaya di Indosesia yang semakin menghilang, karena belum ada batasan terkait penggunaan sosial media terhadap generasi penerus yang merupakan pewaris kebudayaan, khususnya terhadap anak-anak.


Penulis : Irfan Efendi
×
Berita Terbaru Update