Notification

×

Iklan

Iklan

Hukuman Berat Untuk Maling Berdasi

Kamis, 26 April 2018 | April 26, 2018 WIB Last Updated 2018-04-26T14:34:44Z
Foto : Penulis
Indikatorntb.com - Maling, di negara ini kata maling sudah tidak asing bagi telinga masyarakat. Jika kita mengartikan luas kata itu, maka kita akan tersemat pada kata korupsi, perampas hak ekonomi masyarakat, perampok sosial masyarakat. Aktor yang berperan dalam aksi korupsi itupun seringkali masyarakat menyebutnya tikus. Indonesia yang merupakan negara hukum ini sudah memiliki hukum sendiri bagi pelaku korup, ironisnya korupsi dalam negeri ini tidak berkurang tetapi malah seperti jamur yang subur terus berkembang di tempat yang lembab.

Jadi tak heran lagi negeri ini menjadi negara yang gagal. Gagal dalam berahlak untuk sebagai pondasi-pondasi kehidupan. Bahkan setiap hari masyarakat di jejeli dengan berita-berita korupsi. Yang tak kalah menarik pula tikus-tikus ini banyak dari kalangan pejabat pemerintah yang sudah terjerat Komisi Pemberantas Korupsi (KPK). Beberapa dari penangkapan KPK ini mulai dari pemerintah daerah, Gubernur, Walikota, Bupati, Camat, Lurah, RT , sampai kepada pejabat- pejabat Menteri, DPR, MPR dan lain-lain.

Semakin hukum di negeri ini di tegakkan, semakin banyak pula pelaku-pelaku korupsi. Bahkan semakin banyak yang tertangkap masih saja muncul aktor-aktor baru, seperti beranak pinak dan hadir di setiap penjuru, merampok hak rakyat seperti kasus SETNOV yang masih ngetren  dan menjadi bahan pembahasan pemuda di warung-warung kopi, bapak-bapak ronda, bagaikan artis dadakan. Kasus Setnov  ini hanya salah satu contoh kasus korupsi, masih banyak kasus-kasus korupsi di negeri ini. Yang anehnya lagi, pelaku korup itu tidak merasa jera saat tertangkap. Bahkan di depan kamera wartawan pun masih bisa tersenyum sambil melambaikan tangan. Artinya sudah jelas terlihat, perilaku ini menggambarkan  bahwa peran hukum di negeri ini masih sangat lemah. Pertanyaannya, kenapa pelaku korup tidak merasa jera? akan tetapi malah membeludak pesat perkembangannya seperti hal biasa-biasa.

Menanggapi fenomena ini, sastrawan tidak tinggal diam, sastrawan indonesia selalu menanggapi hal-hal yang di anggap tidak ada keadilan dalam lingkup sosial. Para sastrawan mempunyai cara sendiri untuk ikut serta andil dalam berkontribusi terhadap persoalan terkait korupsi. Dengan karya-karya tulis  sastrawan mengemasnya menggunakan nilai estetik dalam karya tulisannya dengan target menyadarkan para pelaku korupsi, memberikan edukasi moral dalam masyarakat. Tidak mandek (berhenti) di situ saja, namun beberapa komunitas-komunitas sastra juga ikut mengembangkannya, dengan melakukan pengkajian, membuka pagelaran drama, pembacaan puisi, musikalisasi puisi dengan tema-tema korupsi.

Jika Damono mengatakan karya sastra diciptakan pengarang atau sastrawan untuk dinikmati, dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Hal ini dipertegas lagi oleh werren&wellek bahwa fungsi karya sastra dulceetutile berarti indah dan bermanfaat. Keindahan di dalam sebuah karya sastra ini dapat memberikan hiburan, dalam artian kebahasaan, pembawaan cerita dan pesan-pesan dalam karya  itu bagi pembaca atau penikmat karya sastra. Kebermanfaatan di sini dalam karya sastra terkandung perilaku-perilaku moral sehingga secara tidak langsung mendidik para pembacanya. Disinilah peran besar bagi sastrawan terhadap perilaku korup. Pengarang berhasil mengabadikan persoalan korupsi dengan tulisan yang mengemasnya menggunakan nilai-nilai estetik. Tidak hanya itu, Menteri, DPR, Hakim, Polisi pun bisa dikemas di masukkan dalam alur cerita di dalam karyanya.

Cara menghukum para pelaku-pelaku korupsipun berbeda, sastrawan mengabadikan nama-nama pelaku dalam tulisannya agar nama-nama itu menjadi arsip seumur hidup dengan catatan sebagai pelaku perampokan atau perampasan ekonomi sosial. Hal ini sudahlah menjadi hukuman berat bagi aktor-aktor korupsi karena nama-nama di dalamnya akan abadi, dan terus dibaca oleh generasi ke generasi. Seperti kata H. Sitanggang, karya sastra bagaikan anak panah bagi pengarang yang dilesatkan dari busurnya untuk mencapai sasaran yang dituju. Artinya sastra merupakan alat ampuh untuk mengekspresikan, berpendapat atau mengkritisi hal apapun yang dirasa tidak ada ketidak adilan. Sastra mempunyai tempat yang profesional dan bebas, ini juga merupakan peran bagi karya sastra untuk mencabik-cabik pelaku korupsi dengan estetik bahasa dan alur cerita dalam karyanya, maka bisa dikatakan isi di dalam karya sastra bukan hanya berisi hal-hal yang menarik, menyenangkan untuk di konsumsi. Namun memiliki nilai lebih untuk dipahami dan dimanfaatkan untuk kehidupan manusia.

Maka dengan adanya sastrawan atau senimanpun memiliki sumbangsi besar untuk ikut andil dalam memberikan pendidikan moral yang bertujuan mencerdaskan serta merubah aklak dan budi pekerti masyarakat melalui karya-karyanya. Artinya karya sastra memiliki bidik sendiri untuk kepentingan ikut menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penulis: Irfan efendi

×
Berita Terbaru Update