Notification

×

Iklan

Iklan

Blunder Politik di Tahun Sensi

Rabu, 11 April 2018 | April 11, 2018 WIB Last Updated 2018-04-11T04:28:26Z
Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto (foto : majamojokerto).
Indikatorntb.com - Jokowi ditampik politisi muslim garis keras. Tak ada ruang bagi Presiden petahana ini. 2019 ganti Presiden, Jokowi pindah haluan. Ada ruang kosong yang ditinggal umat Islam kemudian kaum nasioanalis sekuler, abangan dan sebagian haluan kiri datang mengisi. Dan jika Jokowi kembali memenangi petarungan untuk periode dua, ini adalah blunder bagi Islam politik. Jelas mereka tak pandai berhitung dan tidak cermat ambil keputusan.

Sayangnya politisi muslim tak punya banyak pengalaman. Hanya bagus di konsep tapi miskin pangalaman lapangan. Banyak politisi muslim cerdas tapi tak laku di pasaran. Hanya mengandalkan deret gelar akademik tapi tak cukup untuk membuat rakyat memilih.

Indonesia bubar 2030 adalah blunder politik paling naif. Meski dengan berbagai dalih di cari untuk pembenar. Ketika dikritik semakin kuat bertahan orang jadi ragu apakah Pak Prabowo ketika jadi Presiden nanti, juga tahan kritik atau malah berbalik menjadi pemimpin otoriter yang tak mau berubah. Semakin banyak pidato semakin banyak blunder dibuat.

Dan itu menggelikan bagi seorang calon pemimpin nomor satu. Benarkah Pak Prabowo demokrat sejati masih tanda tanya besar termasuk komitmennya terhadap kepentingan umat Islam juga masih belum teruji. Di sekeliling beliau juga banyak orang sekuler dan Kresten juga punya akses sangat kuat, meski lawan politiknya menyebar isu bahwa dibelakang Pak Prabowo ada Islam garis keras.

Saya tak habis pikir orang sekelas ibu Sukmawati menulis puisi (dan maaf saya menyebut nya itu bukan puisi sebab tak memenuhi syarat disebut sebagai puisi) hanya celotehan orang-orang yang tak punya kerjaan. Dan maaf bagaimana bisa seorang Ibu yang di kenal ramah dan santun itu menulis sesuatu yang menurut saya kurang terpuji.

Untuk apa celotehan macam begitu. Hanya buang-buang waktu dan kurang kerjaan. Tidak berkelas dan jauh dari kata martabat seorang Sukmawati Soekarnoputri. Sebagai Bangsawan, budayawan, putri proklamator, kaya raya dan isteri seorang pangeran. Memang tak ada korelasi antara blunder puisi ibu Sukmawati dengan perebutan tahta 2019, tapi itu mudah dikaitkan sebab ibu Sukma adalah trah Soekarno, bagian dari keluarga dekat ibu Mega ketua umum partai yang sedang berkuasa.

Komentar tak penting dari seorang Presiden soal kaos juga blunder. Pak Presiden tak biasa bernada tinggi. Lebay saya bilang. Hanya soal kecil biasa tapi menjadi viral karena di komeni seorang Presiden. Saatnya hemat bicara yang tidak produktif. Petarung yang baik adalah seorang penunggu yang sabar. Membiarkan lawan bergerak atau memberi kesempatan lawan berbicara sesuka hati kemudian dibunuh dengan sekali tebas.

Blunder politik juga pernah dilakukan Amangkurat I.
Amangkurat I digambarkan sejarawan Merle C. Ricklefs dalam War, Culture, and Economy in Java 1677-1726 (1993) sebagai penguasa brutal tanpa sedikit pun keberhasilan atau kreativitas. “Jika Sultan Agung menaklukkan dengan cara menggertak, membujuk, dan bermanuver, Amangkurat I menuntut dan membantai” (hlm. 31).

Amangkurat I juga dianggap tidak memiliki kualitas kebajikan yang harus dimiliki seorang raja. Dalam Serat Jaya Baya, kitab rahasia yang dianggap sakti karena bisa meramal masa depan, Amangkurat I dilukiskan dengan metafora negatif: Kalpa sru semune kenaka putung (masa kelaliman yang diibaratkan dengan kuku yang putus). "Masa lalim" maksudnya kekejaman pemerintahan raja, dan "kuku yang putus" maksudnya banyaknya panglima yang dibunuh tanpa guna. Mengutip keterangan van Goens dalam catatannya, H.J. de Graaf menggambarkan: “Belum setengah jam berlalu setelah terdengar bunyi tembakan, 5 sampai 6 ribu jiwa dibasmi dengan cara mengerikan".

Ini sebuah blunder politik di tahun sensi. Ketika keluarga Soekarno sedang membangun citra baik di tahun politik, ibu Sukma malah melakukan blunder yang tidak penting. Tambahan pekerjaan berat yang tidak penting. Pasti melelahkan. Himbauan PDIP agar ibu Sukma segera meminta maaf dan berharap tidak dijadikan isu politik berlatar SARA adalah visualisasi kebingungan kubu PDIP yang sangat. Agar tak sampai membesar menjadi Ahok part two.

Soal besarnya adalah komunikasi yang sarat kepentingan menjadikan polarisasi meluas dan kerap tak terkendali. Maka apapun bisa dipolitisir dan dijadikan isu untuk membangun atau melemahkan dukungan. Dan ini penting untuk investasi tahun politik.

Apapun blunder, apakah membunuh 6000 ulama beserta keluarga yang dilakukan Amangkurat 1 atau hanya sepatah kata dalam puisi yang diucap Ibu Sukma atau pidato Indoenesia bubar 2030 akibatnya sama. Meski menurut saya tak penting, tapi sudah cukup untuk membuat elaktabilitas pak Jokowi dan pak Prabowo bakal menurun dan harus kerja keras untuk membuat kondisi kondusif kembali. Peluang bagi munculnya calon alternatif yang lebih segar dan ringan konflik. Sebab memulihkan kepercayaan tak semudah membalik tangan. Selamat bekerja keras, para calon Presiden ... ".

Penulis : @nurbaniyusuf
PADMA-Community
×
Berita Terbaru Update